Rabu, 07 Maret 2012

Suhu air dalam penetasan telur ikan

Suhu berpengaruh terhadap kelangsungan hidup ikan

suhu berpengaruh terhadap kelangsungan hidup ikan, mulai dari telur, benih sampai ukuran dewasa. suhu air akan berpengaruh terhadap proses penetasan telur dan perkembangan telur.
suhu air yang terlalu rendah (dingin) mengakibatkan proses penetesan pada telur ikan akan menjadi lambat, untuk mempertahankan suhu supaya optimal maka pada budidaya pembenihan secara intensif sering menggunakan alat pemanas air (heater) yang biasa digunakan di akuarium atau di bak fiber. suhu air yang diperlukan untuk proses penetasan telur ikan berkisar antara
25 - 30 derajat celcius.
Di alam naik turunnya suhu air sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup ikan. perubahan suhu air yang terlalu ekstrim akan berdapat buruk terhadap ikan yang dipelihara.
akibatnya ikan menjadi stres, dan apabila ikan sudah stress maka ikan tersebut akan rentan terhadap penyakit.

suhu akan berpengaruh terhadap laju pertumbuhan ikan bila suhu terlalu rendah maka pertumbuhan ikan yang dipelihara akan lambat tumbuh, karena bila suhu rendah maka proses metabolisme ikan akan menjadi lambat dan nafsu ikan akan menurun. suhu harus tepat yaitu kisaran optimum 25 - 30 derajat celcius
Dikutip dari sini

Teknik Pembesaran Ikan Gurame

Teknik Pembesaran Ikan Gurame

Pemeliharaan Pembesaran
Pemeliharaan pembesaran dapat dilakukan secara polikultur maupun monokultur.

Polikultur
Ikan gurame dipeliharan bersama ikan tawes, ikan mas, nilem, mujair atau lele. Cara ini lebih menguntungkan karena pertumbuhan ikan gurame yang cukup lambat.

Monokultur
Pada pemeliharaan gurame tersendiri, bibit yang disebar minimal harus berumur 2 bulan. Penebaran bibit sejumlah 500 ekor (ukuran 10-15 cm) diperlukan luas kolam sekitar 1500 meter persegi

Pemupukan
Pemupukan dapat dilakukan dengan bahan kimia dan pupuk kandang. Pada umumnya pemupukan hanya dilakukan 1 kali dalam setiap pemeliharaan, dengan maksud untuk meningkatkan makanan alami bagi hewan peliharaan. Tahap pertama pemupukan dilakukan pada waktu kolam dikeringkan. Pada saat ini pupuk yang diberikan adalah pupuk kandang sebanyak 7,5 kg untuk tiap 100 m 2 kolam, air disisakan sedikit demi sedikit sampai mencapai ketinggian 10 cm dan dibiarkan selama 3 hari. Pada tahap berikutnya pemupukan dilakukan dengan menggunakan pupuk buatan seperti TSP atau pupuk Urea sebanyak 500 gram untuk setiap 100 m 2 kolam. Pemberian kedua pupuk tersebut ditebarkan merata ke setiap dasar dan sudut kolam.

Pemberian Pakan
Makanan pokok ikan gurame berupa pelet yang dapat diatur gizinya, namun di daerah yang agak sulit memperoleh pelet, daun-daunan merupakan alternatif yang sangat baik untuk dijadikan makanan ikan, diantaranya: daun pepaya, keladi, ketela pohon, genjer, kimpul, kangkung, ubi jalar, ketimun, labu dan dadap. Pemberian makanan yang teratur dengan kualitas dan kuantitas yang tinggi dapat meningkatkan pertumbuhan tubuh ikan lebih cepat. Induk-induk gurame yang sehat dan terjamin makanannya dapat dipijahkan dua kali setahun berturut-turut selama 5 tahun.

Pemeliharaan Kolam/Tambak
Setiap habis panen, kolam dibersihkan/kuras. setelah itu dilakukan pemupukan agar mempengaruhi kesuburan kolam, sehingga bila benih disebarkan, kesuburan ikan akan terjamin dan pertumbuhan ikan akan cepat.

Hama dan Penyakit
Penyakit
Gangguan yang dapat menyebabkan matinya ikan adalah penyakit yang disebut penyakit non parasiter dan penyakit yang disebabkan parasit. Gangguan-gangguan non parasiter bisa berupa pencemaran air seperti adanya gas-gas beracun berupa asam belerang atau amoniak; kerusakan akibat penangkapan atau kelainan tubuh karena keturunan. Penanggulangannya adalah dengan mendeteksi keadaan kolam dan perilaku ikan-ikan tersebut. Memang diperlukan pengetahuan dan pengalaman yang cukup untuk mengetahuinya. ikan-ikan yang sakit biasanya menjadi kurus dan lamban gerakannya. Gangguan lain yang berupa penyakit parasiter, yang diakibatkan oleh bakteri, virus, jamur dan berbagai mikroorganisme lainnya. 

Bila ikan terkena penyakit yang disebabkan parasit, dapat dikenali sebagai berikut:
Penyakit pada kulit; pada bagian-bagian tertentu berwarna merah terutama di bagian dada, perut dan pangkal sirip.
Penyakit pada insang; tutup insang mengembang. Lembaran insang menjadi pucat, kadang-kadang tampak semburat merah dan kelabu
Penyakit pada organ dalam; perut ikan membengkak, sisik berdiri. Pencegahan timbulnya penyakit ini dapat dilakukan dengan mengangkat ikan dan melakukan penjemuran kolam beberapa hari agar parasit pada segala stadium mati. Parasit yang menempel pada tubuh ikan dapat disiangi dengan pinset. 

Pengobatan bagi ikan-ikan yang sudah cukup memprihatikan keadaannya, dapat dilakukan dengan menggunakan bahan kimia diantaranya:
Pengobatan dengan Kalium Permanganat (PK)
Sediakan air sumur atau sumber air lainnya yang bersih dalam bak penampungan sesuai dengan berat ikan yang akan diobati.
Buat larutan PK sebanyak 2 gram/10 liter atau 1,5 sdt/100 l air.
Rendam ikan yang akan diobati dalam larutan tersebut selama 30-60 menit dengan diawasi terus menerus.
Bila belum sembuh betul, pengobatan ulang dapat dilakukan 3 atau 4 hari kemudian.
Pengobatan dengan Neguvon. Ikan direndam pada larutan neguvon dengan 2-3,5% selama 3 mernit. Untuk pembe-rantasan parasit di kolam, bahan tersebut dilarutkan dalam air hingga konsentrasi 0,1% Neguvon lalu disiramkan ke dalam kolam yang telah dikeringkan. Biarkan selama 2 hari.

Pengobatan dengan garam dapur. Hal ini dilakukan di pedesaan yang sulit mendapatkan bahan-bahan kimia. Caranya:
siapkan wadah yang diisi air bersih. setiap 100 cc air bersih dicampurkan 1-2 gram (NaCl), diaduk sampai rata;
ikan yang sakit direndam dalam larutan tersebut. Tetapi karena obat ini berbahaya, lamanya perendaman cukup 5-10 menit saja.
Setelah itu segera ikan dipindahkan ke wadah yang berisi air bersih untuk selanjutnya dipindahkan kembali ke dalam kolam;
pengobatan ulang dapat dilakukan 3-4 hari kemudian dengan cara yang sama.

Hama
Bagi benih gurame musuh yang paling utama adalah gangguan dari ikan liar/pemangsa dan beberapa jenis ikan peliharaan seperti tawes, gurame dan sepat. Musuh lainnya adalah biawak, katak, ular dan bermacam-macam burung pemangsa.
 
Dikutip dari sini

Tehnik Budidaya Cacing Sutera

Teknik Budidaya Cacing Sutra

Bentuk tubuh cacing ini menyerupai rambut dengan panjang badan antara 1-3cm dengan tubuh berwarna merah kecoklatan dengan ruas-ruas. Cacing ini hidup dengan membentuk koloni di perairan jernih yang kaya bahan organik. Cacing ini meiliki 57% protein dan 13% lemak dalam tubuhnya. Cacing sutra merupakan hewan hermaprodit yang berkembang biak lewat telur secara eksternal. Telur yang dibuahi oleh jantan akan membelah menjadi dua sebelum menetas.
Bahan organik yang baik untuk digunakan oleh cacing sutra adalah
campuran antara kotoran ayam, dedak (bekatul) dan lumpur. Berikut teknik budidaya cacing sutra:

Persiapan Bibit
Bibit bisa dibeli dari toko ikan hias atau diambil dari alam
Note: Sebaiknya bibit cacing di karantina dahulu karena ditakutkan
membawa bakteri patogen.
Persiapan Media
Media perkembangan dibuat sebagai kubangan lumpur dengan ukuran 1 x 2 meter yang dilengkapi saluran pemasukan dan pengeluaran air. Tiap tiap kubangan dibuat petakan petakan kecil ukuran 20 x 20 cm dengan tinggi bedengan atau tanggul 10 cm, antar bedengan diberi lubang dengan diameter 1 cm.
Pemupukan
Lahan di pupuk dengan dedak halus atau ampas tahu sebanyak 200 – 250 gr/M2 atau dengan pupuk kandang sebanyak 300 gr/ M2.
Fermentasi
Lahan direndam dengan air setinggi 5 cm selama 3-4 hari.
Penebaran Bibit
Selama Proses Budidaya lahan dialiri air dengan debit 2-5 Liter / detik

Tahapan Kerja Budidaya Cacing Sutra
Cacing sutra atau cacing rambut memang telah sejak lama dimanfaatkan sebagai salah satu alternatif pakan ikan. Harga jual yang relatif tinggi, membuat bisnis cacing sutra cukup banyak dilirik orang.
Namun sayangnya, tidak banyak orang yang memahami teknis pembudidayaan cacing sutra ini. Berikut tahapan kerja yang harus dilakukan dalam pembudidayaan cacing sutra.
Lahan uji coba berupa kolam tanah berukuran 8 x 1,5 m dengan kedalaman 30 cm. Dasar kolam uji coba ini hanya diisi dengan sedikit lumpur.
Apabila matahari cukup terik, jemur kolam minimum sehari. Bersamaan dengan itu, kolam dibersihkan dari rumput atau hewan lain yang berpotensi menjadi hama bagi cacing sutra, seperti keong mas atau kijing.
Pipa air keluar atau pipa pengeluaran dicek kekuatannya dan pastikan berfungsi dengan baik. Pipa pengeluaran ini sebaiknya terbuat dari bahan paralon berdiameter 2 inci dengan panjang sekitar 15 cm.
Usai pengeringan dan penjemuran, usahakan kondisi dasar kolam bebas dari bebatuan dan benda-benda keras lainnya.
Hendaknya konstruksi tanah dasar kolam relatif datar atau tidak bergelombang.
Dasar kolam diisi dengan lumpur halus yang berasal dari saluran atau kolam yang dianggap banyak mengandung bahan organik hingga ketebalan dasar lumpur mencapai 10 cm.
Tanah dasar yang sudah ditambahi lumpur diratakan, sehingga benar-benar terlihat rata dan tidak terdapat lumpur yang keras.
Untuk memastikannya, gunakan aliran air sebagai pengukur kedataran permukaan lumpur tersebut. Jika kondisinya benar-benar rata, berarti kedalaman air akan terlihat sama di semua bagian.
Masukkan kotoran ayam kering sebanyak tiga karung ukuran kemasan pakan ikan, kemudian sebar secara merata dan selanjutnya bisa diaduk-aduk dengan kaki.
Setelah dianggap datar, genangi kolam tersebut hingga kedalaman air maksimum 5 cm, sesuai panjang pipa pembuangan.
Pasang atap peneduh untuk mencegah tumbuhnya lumut di kolam.
Kolam yang sudah tergenang air tersebut dibiarkan selama satu minggu agar gas yang dihasilkan dari kotoran ayam hilang. Cirinya, media sudah tidak beraroma busuk lagi.
Tebarkan 0,5 liter gumpalan cacing sutra dengan cara menyiramnya terlebih dahulu di dalam baskom agar gumpalannya buyar.
Cacing sutra yang sudah terurai ini kemudian ditebarkan di kolam budi daya ke seluruh permukaan kolam secara merata.
Seterusnya atur aliran air dengan pipa paralon berukuran 2/3 inci.

Panen
Cacing Bisa dipanen setelah 8-10 hari.
 
Dikutip dari sini

Rabu, 22 Februari 2012

Istilah Boso Jowo


Jeneng Anak Kewan

Anak Asu : Kirik
Anak Ayam : Kuthuk
Anak Angkrang : Kroto
Anak Bandheng : Nener
Anak Bantheng : Cendhet
Anak Babi : Gambluk
Anak Baya : Rete
Anak Banyak : Blegur
Anak Bebek : Meri
Anak Bulus : Kethul
Anak Cecak : Sawiyah
Anak Celeng : Genjik
Anak Cacing : Lur
Anak Coro : Mendhet
Anak Dara : Piyik
Anak Emprit : Indhil
Anak Gajah : Bledhug
Anak Garangan : Rase
Anak Gangsir : Clondo
Anak Gagak : Engkak
Anak Gemak : Drigul
Anak Gundhik : Rayap
Anak Iwak : Beyong
Anak Jaran : Belo
Anak Jangkrik : Gendholo
Anak Kancil : Kenthi
Anak Kadal : Tobil
Anak Kebo : Gudel
Anak Kemangga : Ceriwi
Anak Kethek : Munyuk
Anak Konang : Endrak
Anak Kodok : Precil
Anak Kucing : Cemeng
Anak Kutuk : Kotesan
Anak Lawa : Kampret
Anak Laler : Singgat
Anak Lamuk : Jenthik
Anak Lele : Jabrisan
Anak Luwing : Gonggo
Anak Lutung : Kenyung
Anak Luwak : Kuwuk
Anak Manuk : Piyik
Anak Macan : Gogor
Anak Merak : Uncung
Anak Menjangan : Kompreng
Anak Menthok : Minthi
Anak Sapi : Pedhet
Anak Singa : Dibal
Anak Tawon : Gana
Anak Tambra : Bokol
Anak Tekek : Celoto
Anak Tikus : Cindhil
Anak Tongkol : Cengkik
Anak Tuma : Kor
Anak Urang : Grago
Anak Ula : Kisi
Anak Walang : Dhogol
Anak Wedhus : Cempe
Anak Welut : Udhet
Anak Yuyu : Beyes

Jeneng Godhong-godhongan

Godhong Asem : Sinom
Godhong Aren : Dliring
Godhong Cocor bebek : Tiba urip
Godhong Dhadhap : Tawa
Godhong Gebang : Kajang
Godhong Gedhang enom : Pupus
Godhong Gedhang tuwa : Ujungan
Godhong Gedhang garing : Klaras
Godhong Jati : Jompong
Godhong Jambe : Dedel/Pracat
Godhong Jarak : Bledheg
Godhong Kates : Gampleng
Godhong Kluwih : Kleyang
Godhong Kacang brol : Rendheng
Godhong Kacang lanjaran : Lembayung
Godhong Kelor : Sewu
Godhong Krambil enom : Janur
Godhong Krambil tuwa : Blarak
Godhong Lombok : Sabrang
Godhong Lempuyang : lirih
Godhong Mlinjo : So
Godhong Pring : Elarmanyura
Godhong Pari : Damen
Godhong Randhu : Baladhewa
Godhong Siwalan : Lontar
Godhong Tela : Jlegor
Godhong Tales : Lumbu
Godhong Turi : Pethuk
Godhong Tebu teles : Momol
Godhong Tebu garing : Rapak
Godhong Waluh : Lomah lamah

Jeneng Kembang

Kembang Aren : Dangu
Kembang Blimbing : Maya
Kembang Cubung : Torong
Kembang Cengkeh : Polong
Kembang Duren : Dlongop
Kembang Dhadhap : Celung
Kembang Garut : Grameng
Kembang Gori : Angkup
Kembang Ganyong : Puspanyidra
Kembang Gembili : Seneng
Kembang Gedhang : Ontong/Tuntut
Kembang Jambe : Mayang
Kembang Jati : Janggleng
Kembang Jagung : Jeprak/Sinuwun
Kembang Jambu : Karuk
Kembang Jarak : Juwis
Kembang Kopi : Blanggreng
Kembang Kacang : Besengut
Kembang Kara : Kepek
Kembang Kencur : Sedhet
Kembang Kanthil : Gadhing
Kembang Kelor : Limaran
Kembang Kapas : Kadi
Kembang Kecipir : Cethethet
Kembang Kluwih : Onthel
Kembang Krokot : Naknik
Kembang Krambil : Manggar
Kembang Lombok : Menik
Kembang Lamtoro : Jedhidhing
Kembang Mlinjo : Kroto
Kembang Nangka : Babal
Kembang Pete : Pendul
Kembang Pandhan : Pundhak
Kembang Pace : Nyreweteh
Kembang Pring : Krosak
Kembang Pohong : Ingklik
Kembang Randhu : Karuk
Kembang Salak : Ketheker
Kembang Suruh : Drenges
Kembang Tales : Pancal
Kembang Tebu : Gleges
Kembang Timun : Montro

Jeneng wit, Jeneng woh, Jeneng isi, Jeneng penthil

Jeneng Penthil

Pentil Asem : Cempaluk
Pentil Jambu : Karuk
Pentil Jagung : Janten
Pentil Jambe : Bleber
Pentil Krambil : Cengkir
Pentil Kacang : Besengut
Pentil Manggis : Blibar
Pentil Nangka : Babal
Pentil Pelem : Pencit
Pentil Randhu : Plencing
Pentil Mlinjo : Kroto
Pentil Semangka : Plonco
Pentil Timun : Serit

Jeneng Isi-isian

Isi Asem : Klungsu
Isi Duren : Pongge
Isi Kluwih : Bethem
Isi Nangka : Beton
Isi Pelem : Pelok
Isi Randhu : Klentheng
Isi Salak : Kenthos
Isi Semangka : Kwaci
Isi Sawo : Kecik
Isi Kecipir : Botor
Isi Jambe : Jebug
Isi Kates : Trempos
Isi Krambil : Kenthos
Isi Kluwak : Pucung
Isi Mlinjo : Klathak

Jeneng Woh-wohan

Woh Aren : Kolang kaling
Woh Bengkowang : Besusu
Woh Cengkeh : Polong
Woh Gebang : Krandhing
Woh Jati : Janggleng
Woh Kesambi : Kecacil
Woh Kanthil : Gandhek
Woh Kelor : Klenthang
Woh So : Mlinjo
Woh Turi : Klentang
Woh Uwi : Katak

Wit=witan

Wit Jagung : Tebon
Wit Telo : Lung
Wit Aren : Ruyung
Wit Pari : Damen
Wit Jambe : Pucang
Wit Gedhang : Debog
Wit Siwalan : Tal
Wit Kapuk : Randhu
Wit Kacang : Rendheng
Wit Pring tuwa : Bungkilan
Wit Pring enom : Bung
Wit Mlinjo : So
Wit Krambil : Glugu
Wit Jati enom : Janggelan

Jeneng Tali lan jeneng Wektu

Tali

Amben : Tali weteng jaran
Dhadhung : Tali kanggo nancang sapi
Dhandan : Tali kanggo nggeret glondhongan kayu
Elis : Tali kendhali
Goci : Tali layangan
Godhi : Tali gombal
Jala jala : Tali kanggo mbendheng kelir
Janget/Ulap ulap : Tali blebet garane pethel
Jejet : Tali plipitan
Keluh : Tali ing irung sapi
Klanthe : Tali caping
Koloran/Usus usus : Tali Kathok
Pluntur : Tali kanggo nggantung gong/nyangga gamelan
Salang : Tali pikulan
Sawed : Tali pasangan sapi
Sendheng : Tali gendhewa/langkap
Setagen/Sabuk/Setut : Tali weteng wong
Suh : Tali sapu
Tutus : Tali saka irat iratan pring/penjalin
Ulur : Tali kanggo ngulukake layangan
Upat upat : Tali pecut
Uwed : Tali kanggo ngubengake gangsingan

Wektu

Watara jam 06 esuk diarani : Byar
Watara jam 09 esuk diarani : Gumatel
Watara jam 10 esuk diarani : Pecat sawet/Wisan gawe
Watara jam 12 awan diarani : Bedhug
Watara jam 02 awan diarani : Lingsir kulon
Watara jam 03 awan diarani : Ngasar
Watara jam 05 sore diarani : Tunggang gunung
Watara jam 05:30 sore diarani : Tiba layu
Watara jam 06 sore diarani : Magrib/Surup/Sandikala
Watara jam 07 wengi diarani : Ngisak
Watara jam 09 wengi diarani : Sirep bocah
Watara jam 11 wengi diarani : Sirep wong
Watara jam 12 wengi diarani : Tengah wengi
Watara jam 01 wengi diarani : Lingsir wengi
Watara jam 02 wengi diarani : Titiyoni
Watara jam 03 wengi diarani : Jago kluruk sepisan
Watara jam 04 wengi diarani : Subuh/Jago kluruk kapindho
Watara jam 05 esuk diarani : Saput lemah/Parak esuk 

Candraning Manungsa

alise
:
nanggal sepisan
astane
:
 nggendhewa
athi-athine
:
 ngudhup turi
awake
:
 ramping
bangkekane
:
 nawon kemit
bathuke
:
 nyela cendhani
bokonge
:
 manjang ngilang
brengose
:
 nglaler menclok
brengose
:
 nguler keket
cahyane
:
 sumunu/ sumunar
cahyane
:
 ngalentrih
drijine
:
 mucuk eri
godhge
:
 simbar rumembun
gulune
:
 ngelung gadhung
gulune
:
 ngolan-olan
eseme
:
 kaya madu
eseme
:
 pahit madu
idepe
:
 tumenga ing tawang
irunge
:
 kencana pinatar
irunge
:
 mbangir
irunge
:
 ngudhup mlathi
kempole
:
 ngembang pudhak
kempole
:
 nyikil walang
lakune
:
 macan 1uwe
lakune
:
 mager timun
lembehane
:
 mblarak sempal
lambene
:
 manggis karengat
lambene
:
 nggula satemlik
lengene
:
 nggandhewa pinenthang
mripate
:
 blalak-blalak
mripate
:
 ndamar kanginan
netrane
:
 liyep alindri
pakulitane
:
 ngulit langsep
pakulitane
:
 ireng manis
pamulune
:
 ambengle kiris
pamulune
:
 prada binabar
pawakane
:
 gagah pidegsa
pawakane
:
 ramping
pipine
:
 nduren sajuring
polatane
:
 ruruh jatmika
praene
:
 sumunar
pundhake
:
 nraju emas
rambute
:
 ngandhan-andhan
rambute
:
 ngembang bakung
sinome
:
 micis wuncah
sinome
:
 mbibis mabur
slirane
:
 sidhet singset
solahe
:
 merak ati
susune
:
 nyengkir gadhing
swarane
:
 ngombak banyu
tangane
:
 nggandhewa pinenthang
tungkake
:
 bunder lir jinangka
ulate
:
 sumeh / sumunar
untune
:
 miji timun
untune
:
 ngelar kombang
wange
:
 ngungkal genang
wange
:
 nyangkal putung
watake
:
 andhap asor
wentise
:
 mukang gangsir
wentise
:
 ndamen meteng

Dikutip dari sini